EraTimes. Kubu Raya – Perpisahan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Darul Ulum (STITDAR) Kelompok 4 di Desa Palembang bukan sekadar seremoni penutup kegiatan pengabdian mahasiswa. Lebih dari itu, momentum tersebut menjelma menjadi ruang refleksi sosial dan spiritual melalui kegiatan Palembang Bersholawat, sebuah ikhtiar kultural-religius yang mampu menghadirkan kebersamaan lintas elemen masyarakat.
Di tengah dinamika sosial pedesaan yang kian kompleks—mulai dari tantangan ekonomi, pergeseran nilai, hingga renggangnya interaksi sosial—kegiatan keagamaan berbasis budaya lokal seperti sholawat menjadi instrumen strategis untuk memperkuat kohesi sosial. Inilah yang tercermin dalam acara perpisahan KKN STITDAR Kelompok 4, yang dihadiri tokoh agama, tokoh masyarakat, aparatur desa, hingga perwakilan pejabat daerah.
Sholawat sebagai Bahasa Pemersatu
Sholawat bukan hanya lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga bahasa universal umat Islam yang melampaui sekat usia, latar belakang pendidikan, dan status sosial. Dalam konteks Desa Palembang, Palembang Bersholawat menjadi medium yang efektif untuk menyatukan masyarakat dalam suasana khidmat, damai, dan penuh makna.
Anak-anak, remaja, orang tua, hingga para sesepuh desa duduk berdampingan, melantunkan sholawat dengan satu tujuan: merawat nilai kebersamaan dan spiritualitas. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendekatan keagamaan yang inklusif dan partisipatif mampu membangun ruang publik yang sehat dan harmonis.
KKN sebagai Laboratorium Sosial
Kegiatan KKN sejatinya bukan hanya kewajiban akademik, tetapi juga laboratorium sosial bagi mahasiswa untuk belajar memahami realitas masyarakat secara langsung. Melalui program-program pendidikan, keagamaan, dan sosial kemasyarakatan yang dijalankan selama masa pengabdian, mahasiswa STITDAR Kelompok 4 berupaya menanamkan nilai keberlanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat.
Acara perpisahan dengan konsep Palembang Bersholawat menjadi simbol bahwa pengabdian mahasiswa tidak berhenti pada tataran program kerja, tetapi juga menyentuh aspek emosional dan spiritual masyarakat. Di sinilah peran mahasiswa sebagai agen moderasi, perekat sosial, dan mitra masyarakat menemukan relevansinya.
Kehadiran Tokoh dan Pejabat: Simbol Kolaborasi
Kehadiran para ustaz, tokoh agama, dan pejabat dalam acara ini memiliki makna strategis. Selain sebagai bentuk dukungan moral, hal tersebut juga mencerminkan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat dalam membangun kehidupan sosial yang berkarakter.
Kolaborasi semacam ini perlu didorong menjadi kebijakan berkelanjutan, di mana kegiatan keagamaan tidak hanya diposisikan sebagai ritual, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan sosial dan penguatan karakter masyarakat desa.
Perpisahan KKN STITDAR Kelompok 4 melalui Palembang Bersholawat bukanlah akhir dari pengabdian, melainkan awal dari ikatan emosional dan nilai-nilai kebersamaan yang telah terbangun. Sholawat menjadi jembatan yang menghubungkan mahasiswa dan masyarakat, ilmu dan amal, serta kebijakan dan kearifan lokal.
Momentum ini patut dijadikan contoh bahwa pengabdian mahasiswa dapat dikemas secara humanis, religius, dan berdampak sosial. Karena sejatinya, desa yang kuat bukan hanya dibangun oleh infrastruktur, tetapi juga oleh persatuan hati dan nilai spiritual yang terus dirawat bersama.









