EraTimes. PERINGATAN ISRA’ MI’RAJ – “Bagaimana kamu akan percaya pada Isra Mikraj, sedangkan kamu sendiri masih khawatir ndak kebagian jodoh.” ucap seorang teman pada malam perayaan tahunan itu.
Refleksi terhadap penggalan percakapan di atas menjadi penting untuk kita renungi. Bagaimanapun, masyarakat sekitar Nabi pada waktu itu menyangsikan safar yang dianggap tidak masuk akal ini. Kendati demikian, pada ayat pertama Surah Al-Isra’, Tuhan telah memverifikasi kebenaran peristiwa tersebut. Isra Mikraj adalah perjalanan Nabi ditemani Jibril dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha dan diakhiri dengan Mikraj ke Sidratul Muntaha.
Pertama, perjalanan ini menjadi momentum penyingkapan kualitas iman umat, sekaligus peneguhan misi kenabian, bagaimana kemudian ia dihadapkan dengan sikap beberapa orang muslim yang kembali murtad setelah sebelumnya berikrar akan kebenaran Muhammad SAW. Nabi menjadi tahu, siapa yang imannya betul-betul kokoh dan siapa yang beriman hanya secara lahir. Boleh jadi, tanpa kita sadari, iman kita lebih sering berhenti pada pengakuan lahir, bukan pembenaran batin.
Kedua, Sahabat terdekatnya (Abu Bakar) adalah orang pertama yang membenarkan perjalanan itu, menurut sementara pakar, Abu Bakar dijuluki dengan As Shiddiq oleh karena sikapnya ini, tidak perlu pikir panjang, jika sejak awal mengimani Muhammad maka konsekuensi dasarnya adalah percaya sepenuhnya terhadap apa yang disampaikan Nabi terakhir itu. Bagi Abu Bakar As Shiddiq, Iman bukan soal pembuktian tapi mengamini apa yang dikabarkan.
Ketiga, setelah orang-orang kafir meminta pembuktian melalui pertanyaan-pertanyaan verifikasi lantas Nabi dapat menjawabnya dengan tepat tanpa ada celah sedikitpun, mereka tetap tidak mau mengimani, demikian orang-orang ini karena sejak semula tidak bermaksud mengimani, sebatas menguji pengakuan Rasul Muhammad. Sekali lagi, iman bukan soal pembuktian, tapi mengamini apa yang dikabarkan.
Bersambung…
Pewarta: Jamal Muhammad









