EraTimes. Jakarta — Partisi Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) secara resmi memperkenalkan maskot barunya, Banteng Barata, untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-53 Partai. Acara besar ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 10 Januari 2026 di Stadion Internasional Beach City (BCIS) di Ancol, Jakarta Utara, setelah Kongres VI PDIP berakhir. Tujuannya adalah untuk meningkatkan konsolidasi strategis partai.
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, memulai peringatan HUT ke-53 dan pembukaan Rakernas I dengan antusiasme kader saat memasuki arena utama. Megawati, yang juga Presiden RI ke-5, menyapa ribuan kader di tribun stadion sebelum prosesi resmi dimulai, menunjukkan pentingnya simbolisme partai dalam acara ini.
Sebelum peluncuran maskot menjadi fokus utama, suasana acara berubah menjadi hening saat Megawati memimpin seluruh peserta untuk melakukan penghormatan dalam bentuk hening cipta bagi para korban bencana alam yang baru-baru ini melanda wilayah Sumatra. Ini menegaskan komitmen PDIP terhadap empati sosial dan kesadaran kolektif atas peristiwa nasional yang sedang berlangsung.
PDIP mengadakan sayembara nasional selama tiga bulan, dari Oktober hingga Desember 2025, untuk memilih nama Barata untuk maskot. Melalui proses partisipasi, nama Banteng Barata akhirnya diputuskan sebagai yang paling cocok untuk identitas perjuangan partai yang berakar pada semangat rakyat Indonesia.
Menurut M. Prananda Prabowo, Ketua DPP PDIP Bidang Ekonomi Kreatif, maskot itu adalah ekspresi filosofis yang mendalam. Banteng Barata dianggap sebagai representasi dari kekuatan rakyat yang didasarkan pada persatuan, bergerak dengan kesadaran ideologis, dan bertindak untuk mewujudkan keadilan sosial dan kedaulatan nasional bersama.
Mereka mengenakan pakaian kontemporer, seperti jaket hoodie merah dengan logo PDIP, celana hitam, dan sepatu putih dengan aksen merah. Tema besar Rakernas I 2026, “Satyam Eva Jayate—Kebenaran Pasti Akan Menang”, diharapkan dapat menunjukkan wajah baru perjuangan partai dan mampu menyatukan semangat generasi muda dan kesetiaan terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Pewarta: Mukhlis









