EraTimes. JAKARTA – Setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar-besaran di pusat Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) dini hari, suasana Caracas berubah drastis. Jalan-jalan yang biasanya ramai mendadak lengang, dipenuhi bangkai mobil rusak akibat ledakan dan bentrokan. Listrik di sejumlah kawasan sering padam, sementara banyak gedung di pusat kota dilaporkan hancur, menyisakan puing-puing yang menyelimuti wajah ibu kota Venezuela.
Menurut laporan, operasi yang menewaskan sedikitnya 80 orang itu berakhir dengan penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Dengan kendaraan militer dan sipil yang hancur dan terbengkalai di sepanjang jalan utama, tampak bahwa pasukan militer AS menguasai sejumlah titik strategis di ibu kota dan wilayah sekitarnya.
“Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan penegak hukum AS. Nicolás Maduro dan ibu negara telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri,” tulis Presiden Amerika Serikat Donald Trump di platform media sosial Truth Social, dikutip dari laman resmi Wikipedia.
Presiden Trump menyebut operasi tersebut sebagai bagian dari upaya memerangi kejahatan transnasional dan menegaskan bahwa pasukan Amerika Serikat berhasil menuntaskan seluruh target utama. Sebaliknya, pemerintah Venezuela mengecam tindakan itu sebagai penculikan dan pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara yang dilakukan secara sepihak oleh Washington.
Maduro dan Cilia Flores muncul di hadapan pengadilan federal di New York untuk menyatakan penolakan atas seluruh tuduhan yang diajukan pemerintah Amerika Serikat. Keduanya menegaskan bahwa mereka tetap menjabat sebagai presiden dan ibu negara Venezuela secara konstitusional. Penculikan tersebut memicu reaksi keras dari sejumlah negara serta kecaman luas di tingkat internasional.
Politik di Caracas semakin tegang. Sementara wakil presiden Venezuela dilantik sebagai pemimpin sementara untuk menjamin fungsi pemerintahan, para pejabat militer dan sipil yang setia kepada Maduro menyerukan solidaritas nasional dan menolak legitimasi tindakan militer AS. Tujuan dari langkah ini adalah untuk mengurangi kekosongan kekuasaan dan kerusuhan yang dapat menyebar lebih luas.
Dunia telah memperhatikan peristiwa tragis di Caracas. Sejumlah negara mengecam serangan militer AS sebagai pelanggaran hukum internasional dan ancaman terhadap kedaulatan negara pada pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Sementara itu, negara-negara lain menuntut penjelasan lebih lanjut terkait dampak jangka panjang dari krisis ini di kawasan Amerika Latin.
Pewrta: Mukhlis









