Eratimes, Jakarta-Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama(PKUB) Kementerian Agama, M. Adib Abdushomad, M.Ag., M.Ed., Ph.D., menekankan pentingnya pergeseran paradigmadalam memandang hukum nasional terkait kehidupanberagama. Hal tersebut disampaikannya saat memimpingelaran webinar Harmony Talks Batch 4 bertajuk “Strategi Nasional Pemeliharaan Kerukunan dan PerlindunganKehidupan Beragama Pasca KUHP Baru“
Di hadapan ribuan peserta yang mengikuti acara secaradaring, Adib menjelaskan bahwa pemberlakuan KUHP barumenjadi momentum krusial bagi bangsa Indonesia untukmemperbarui cara pandang dalam menjaga kerukunan. Menurutnya, fokus negara kini harus bertransformasi darisekadar melindungi agama (protecting religion) menujuperlindungan terhadap koeksistensi atau kehidupan beragamayang harmonis (protecting religious coexistence).
“Dalam perspektif baru ini, hukum tidak hanya hadir untukmelindungi agama sebagai institusi, melainkan memastikanadanya ruang aman bagi seluruh umat untuk hidupberdampingan secara damai. Inilah semangat yang ingin kami kawal agar implementasi KUHP baru benar-benarmemperkuat persaudaraan di tengah keberagaman,” tegasAdib saat membuka acara.
Inisiatif Adib dalam menginisiasi ruang diskusi strategis inidiapresiasi oleh Direktur Jenderal Politik dan PemerintahanUmum Kementerian Dalam Negeri, Prof. (H.C.) Dr. Drs.Akmal Malik, M.Si. Selaku keynote speaker, Akmal menekankan bahwa sinergi antara kebijakan pemerintah pusatdan pemahaman masyarakat di tingkat lokal sangat krusialdalam menyukseskan transisi regulasi ini.
Diskusi yang dipandu oleh Kepala Bidang Bina Lembaga Kerukunan Agama dan Lembaga Keagamaan PKUB, Hery Susanto, S.S., M.AP., ini turut menghadirkan narasumberkredibel, yaitu Dewan Pengarah Koalisi Advokasi KebebasanBeragama dan Berkeyakinan Indonesia, Dr. Zainal Abidin Bagir, serta Ketua FKUB Provinsi Papua, Pdt. LipiyusBiniluk, M.Th.
Melalui Harmony Talks yang digagasnya, Adib berharapmasyarakat tidak lagi melihat hukum sebagai momok yang menakutkan, melainkan sebagai instrumen untuk menjagakerukunan bersama. Antusiasme ribuan peserta yang hadirmencerminkan tingginya harapan publik akan arah kebijakankeagamaan yang lebih inklusif dan dialogis di masa depan.









