Menu ✖

Mode Gelap
 

Terkini · 4 Mei 2026 00:49 WIB

Hardiknas Jadi Ironi: PTKIN Dinilai Tertinggal Akibat Kebijakan Struktural


 Hardiknas Jadi Ironi: PTKIN Dinilai Tertinggal Akibat Kebijakan Struktural Perbesar

Eratimes, Jakarta-Di tengah perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), kritik terhadap kondisi pendidikan kembali mencuat. Bendahara Pusat DEMAPTKIN, Hamidudin Nasir, menilai bahwa peringatan tahunan tersebut justru menyisakan ironi, khususnya bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang hingga kini dinilai belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

Dalam keterangannya, Hamidudin menyoroti bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih menghadapi tantangan besar di tingkat global. Ia menilai berbagai persoalan klasik seperti ketimpangan fasilitas, rendahnya kesejahteraan tenaga pendidik, serta melemahnya kualitas pembelajaran masih belum tertangani secara sistematis.

Namun, sorotan utama diarahkan pada kondisi PTKIN yang disebutnya mengalami stagnasi akibat kebijakan struktural. Menurutnya, persoalan utama bukan semata keterbatasan sumber daya, melainkan pola pengelolaan yang tidak memberikan ruang berkembang.

“PTKIN tidak kekurangan potensi, tetapi dibatasi oleh sistem yang terlalu sentralistik,” ujarnya.

Ia juga mengkritik peran Kementerian Agama Republik Indonesia yang dinilai memikul terlalu banyak fungsi sekaligus, mulai dari urusan keagamaan hingga pendidikan. Kondisi ini, menurutnya, membuat pengelolaan pendidikan Islam tidak optimal dan tertinggal dibandingkan perguruan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Sebagai solusi, Hamidudin mengusulkan adanya restrukturisasi kelembagaan dengan membentuk kementerian khusus yang fokus pada pendidikan Islam. Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan tata kelola yang lebih profesional, adaptif, dan berorientasi pada kualitas.

Dari sisi anggaran, ia menilai besarnya alokasi dana yang diterima Kementerian Agama belum berbanding lurus dengan peningkatan kualitas PTKIN. Ketimpangan infrastruktur dan fasilitas pendidikan masih menjadi persoalan utama yang berdampak langsung pada daya saing lulusan.

Lebih lanjut, ia juga menyinggung kultur birokrasi di lingkungan PTKIN yang dinilai masih sarat kepentingan dan belum sepenuhnya mengedepankan meritokrasi. Intervensi pusat yang kuat dalam berbagai keputusan akademik dinilai menghambat inovasi dan kemandirian kampus.

Hamidudin menegaskan, jika tidak ada langkah pembenahan yang konkret dan menyeluruh, maka pendidikan keagamaan di Indonesia akan terus tertinggal di tengah perkembangan global yang semakin kompetitif.

“Hardiknas seharusnya menjadi momentum perubahan, bukan sekadar seremoni tahunan tanpa evaluasi nyata,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 27 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Muhammadiyah Peringatkan Pemerintah: Karhutla Jangan Jadi Bencana Tahunan, Korporasi hingga Pejabat Harus Diusut

21 Oktober 2026 - 09:11 WIB

Kunjungan Ketua PB Porprov XIV Ke KONI Pontianak, Satukan Visi Sukseskan Pesta Olahraga Kalbar

1 Oktober 2026 - 19:45 WIB

Tembus Forum Nasional, Dua Mahasiswa Universitas OSO Ukir Prestasi di Future Leaders Summit 2026

11 September 2026 - 14:44 WIB

Tim Verifikasi KONI Kalbar, Koordinasi Akhir Cabor Mandiri dan Eksibisi Porprov 2026

3 September 2026 - 12:05 WIB

Boyman Harun Instruksikan Kader Lakukan Aksi Nyata Bagi Masyarakat

31 Agustus 2026 - 15:24 WIB

Ketika Kekuasaan Berhadapan dengan Cermin!! Polemik Keluarga Bupati, Reaksi Jiwo, dan Satire tentang Etika Kekuasaan

15 Agustus 2026 - 14:04 WIB

Trending di Terkini