eratimes. PONTIANAK – Universitas OSO kembali mencatatkan prestasi internasional setelah tim dosen lintas disiplin berhasil memenangkan hibah bergengsi dari Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund (MBZ Fund), lembaga filantropi konservasi global berbasis di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Pendanaan ini diberikan untuk mendukung penelitian konservasi lumba-lumba Irrawaddy (Orcaella brevirostris) di wilayah estuari Kalimantan Barat, melalui proyek ilmiah yang berfokus pada pemetaan populasi serta mitigasi ancaman akibat aktivitas manusia terhadap mamalia laut langka tersebut.
Keberhasilan ini menjadi tonggak penting bagi Universitas OSO dalam memperkuat posisi sebagai perguruan tinggi yang aktif berkontribusi dalam riset konservasi global. Proposal berjudul “Assessing Population Status and Mitigating Anthropogenic Threats to Irrawaddy Dolphins (Orcaella brevirostris) in the Estuaries of West Kalimantan” dinilai memiliki urgensi tinggi karena menyoroti perlindungan spesies endemik yang menghadapi tekanan serius di habitat estuari Kalimantan Barat.
Riset ini akan berfokus pada dua aspek utama, yakni analisis kondisi populasi terkini pesut Irrawaddy serta penyusunan strategi mitigasi terhadap ancaman antropogenik seperti aktivitas perikanan, degradasi habitat, dan tekanan lingkungan lain yang dipicu manusia. Kajian tersebut dinilai penting untuk mendukung keberlanjutan ekosistem estuari sekaligus menjaga keseimbangan biodiversitas perairan Indonesia.
Tim peneliti Universitas OSO yang terlibat terdiri dari akademisi dengan keahlian multidisipliner. Proyek ini dipimpin oleh Ir. Hendi Santoso, S.I.K., M.Si selaku Project Leader sekaligus Marine Scientist dari Program Studi Ilmu Kelautan. Ia didampingi Adityo Raynaldo, S.Si., M.Si sebagai spesialis konservasi biologi, Robin Saputra, S.Pi., M.Si sebagai ahli GIS dan penginderaan jauh, serta Rizqan Khairan Munandar, S.Pi., M.Si sebagai spesialis habitat dan sumber daya akuatik.
Pihak rektorat Universitas OSO menyebut pencapaian ini sebagai bukti nyata bahwa kapasitas akademik dan kualitas penelitian kampus telah mampu bersaing di tingkat internasional. Selain menjadi pengakuan global, hibah MBZ Fund juga menunjukkan bahwa riset dosen daerah memiliki peluang besar memberikan dampak nyata terhadap isu konservasi dunia.
Dalam pernyataan resminya, universitas menegaskan komitmen untuk terus mendorong penelitian berkelas internasional, khususnya pada sektor konservasi sumber daya hayati dan kelautan. Hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya memperkuat upaya pelestarian lumba-lumba Irrawaddy di Kalimantan Barat, tetapi juga menjadi dasar ilmiah bagi kebijakan perlindungan ekosistem perairan nasional.
Prestasi dosen Universitas OSO ini sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan sivitas akademika untuk terus mengembangkan inovasi, memperluas jejaring global, dan menghasilkan riset berdampak luas. Dengan keberhasilan menembus hibah internasional MBZ Fund, Universitas OSO semakin menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menjaga masa depan lingkungan Indonesia.









