EraTimes. SPORTS – Karier Raphinha di Barcelona pernah berada di titik kegagalan. Dengan banderol yang besar dan ekspektasi yang tinggi, Pemain asal Brasil itu menunjukkan tekad dan etos kerja yang tinggi dalam setiap kesempatan yang ia peroleh. Namun, prestasi yang buruk membuatnya tidak mendapatkan pengakuan, dan masalah keluar klub mulai muncul.
Situasi ini mulai berubah sejak Hansi Flick mengambil kursi kepelatihan di Barcelona. Pelatih asal Jerman itu memberi Raphinha kepercayaan dan peran baru yang lebih jelas yang sebelumnya jarang ia rasakan. Tanggung jawab Raphinha di lapangan meningkat secara signifikan, bukan hanya sebagai penyerang sayap, tetapi jua sebagai penggerak intensitas permainan dan pemimpin press.
Meskipun kontribusinya bagi tim semakin terlihat, Raphinha masih belum mendapat perhatian yang sangat layak secara individual untuk memenuhi peran yang dia miliki di dalam Tim. Pelatih menanggapi dengan keras kenyataan bahwa namanya jarang muncul dalam daftar penghargaan terkemuka dunia.
Hal itu terjadi sebelum pertandingan melawan Villarreal. Selama konferensi pers, Flick secara terbuka membela Raphinha. Ia menyatakan bahwa absennya Raphinha dari daftar FIFA Best XI adalah keputusan yang “tidak masuk akal” dan tidak mewakili kontribusi nyata pemain di lapangan.
Dia berkorban, bekerja untuk tim, dan memainkan peran penting dalam cara kami bermain. Flick menyatakan bahwa jika jumlah itu tidak cukup untuk masuk ke dalam Best XI, ada kesalahan dalam proses penilaian, seperti yang dikutip dari Bola.Net.
Dengan dukungan langsung ini, Raphinha tidak hanya diperkuat di skuad utama, tetapi juga jelas menunjukkan bahwa selama era Flick, Raphinha bukan lagi pemain yang tidak penting tetapi merupakan komponen penting dari rencana baru Barcelona.
Ketika Hansi Flick ditunjuk sebagai pelatih Barcelona, Raphinha dipilih sebagai kapten tim bersama rekan setimnya. Mengingat posisinya yang sebelumnya sering dipertanyakan, keputusan itu sempat menuai keraguan. Namun, Raphinha menjawabnya dengan cepat dengan unjuk rasa luar biasa di lapangan.
Raphinha bergabung dengan Lamine Yamal dan Robert Lewandowski untuk membentuk trio paling menakutkan di lini serang Barcelona sejak era MSN. Kombinasi kecepatan, inovasi, dan kecepatan mereka membuat lini serang Barcelona kembali ditakuti di Eropa. Sepanjang musim, pemain bertahan asal Brasil itu mencetak 34 gol dan 26 assist di semua pertandingan, yang membawa dia ke penghargaan pemain terbaik La Liga 2024/2025.
Pengakuan global terhadap Raphinha dinilai masih belum sepadan dengan kontribusinya di lapangan. Meski berhasil finis di posisi kelima Ballon d’Or, namanya justru tak tercantum Ketika Raphinha dikeluarkan dari daftar FIFA Best XI, Hansi Flick sangat marah. Pelatih asal Jerman itu menyebut keputusan itu sebagai sebuah “lelucon” dan menekankan betapa pentingnya Raphinha untuk permainan Barcelona. Flick menekankan fakta bahwa pemain sayap telah mencetak 13 gol dan menjadi top skor Liga Champions karena dia percaya bahwa penilaian tersebut tidak mencerminkan kinerja terbaik salah satu striker paling berpengaruh di Eropa saat ini.
Selain itu, sikap tegas Flick menunjukkan kepeduliannya terhadap dampak psikologis pemain yang tidak menerima pengakuan. Memasuki musim berikutnya, Raphinha tidak dapat bermain karena cedera hamstring lagi, yang membuatnya tidak bermain hingga akhir November. Pada comeback singkatnya selama sembilan menit melawan Athletic Club di Camp Nou, sang kapten disambut dengan standing “Ovation”, menandai kembalinya ia ke lapangan sekaligus ke hati publik Blaugrana.









