Menu ✖

Mode Gelap
 

Daerah · 20 Mar 2026 09:24 WIB

Klaim BBM Aman Dinilai Menyesatkan: Kalbar Krisis, Pemerintah dan Pertamina Disorot Keras


 Klaim BBM Aman Dinilai Menyesatkan: Kalbar Krisis, Pemerintah dan Pertamina Disorot Keras Perbesar

ERATIMES. Pontianak – Pernyataan pemerintah yang menyebut stok bahan bakar minyak (BBM) nasional aman dinilai tidak mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Di Kalimantan Barat, masyarakat justru menghadapi krisis BBM yang memicu antrean panjang dan lonjakan harga eceran hingga Rp15.000–Rp20.000 per liter.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, sebelumnya menegaskan bahwa cadangan operasional BBM nasional berada pada kisaran 20 hari, bahkan di tengah konflik Timur Tengah. Namun, klaim tersebut dianggap tidak relevan bagi masyarakat di daerah yang harus berjam-jam mengantre tanpa kepastian mendapatkan BBM.

Kondisi global seperti eskalasi konflik di Timur Tengah memang berpotensi mengganggu distribusi energi dunia, khususnya melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz. Namun, menjadikan faktor global sebagai alasan dinilai tidak cukup, mengingat persoalan utama di Kalbar justru terletak pada buruknya distribusi dan lemahnya pengawasan di dalam negeri.

Sorotan tajam juga diarahkan kepada Pertamina yang dinilai gagal menjalankan fungsi distribusi secara merata. Kelangkaan yang terjadi membuka ruang praktik penimbunan dan permainan harga, yang pada akhirnya membebani masyarakat kecil.

Ketua PW Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat, Zainullah, menyampaikan kritik keras terhadap pemerintah dan Pertamina. Ia menilai pernyataan “stok aman” justru terkesan menutup mata terhadap penderitaan masyarakat.

“Ini bukan sekadar ketidaksinkronan data, tapi bentuk kegagalan pemerintah membaca realitas. Mengatakan BBM aman di saat rakyat antre berjam-jam dan membeli dengan harga mencekik adalah bentuk ketidakpekaan,” tegasnya.

Ia juga menilai negara lalai dalam menjamin hak dasar masyarakat terhadap energi. Menurutnya, jika distribusi berjalan baik, maka tidak mungkin terjadi kelangkaan hingga harga eceran melonjak drastis.

“Krisis ini menunjukkan lemahnya kontrol negara. Jika dibiarkan, kepercayaan publik akan terus menurun. Pemerintah dan Pertamina tidak bisa terus berlindung di balik angka cadangan nasional,” lanjutnya.

PW IPNU Kalbar mendesak dilakukan evaluasi total terhadap sistem distribusi BBM, termasuk audit menyeluruh terhadap rantai pasok serta penindakan tegas terhadap pihak-pihak yang bermain di tengah kelangkaan.

Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah bahwa keberhasilan tidak bisa diukur dari angka di pusat semata, tetapi dari sejauh mana masyarakat di daerah benar-benar merasakan kehadiran negara.

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Semarak Hari Santri 2026 dan HUT Kota Pontianak, Yayasan PP Miftahul Huda Gelar Jalan Sehat dan Bazar

22 Oktober 2026 - 16:03 WIB

PT GAN Dukung Penanganan Karhutla di Lima Desa, Salurkan Peralatan hingga Bantuan Operasional

19 Oktober 2026 - 12:38 WIB

Apresiasi Ketum KONI Kalbar Atas Komitmen Liga Basket Walikota Cup, Ajang Tempa Talenta Lokal

18 Oktober 2026 - 20:29 WIB

KONI Kalbar Apresiasi Upaya Standarisasi Wasit Pickle Oleh IPF

15 Oktober 2026 - 15:52 WIB

Konsolidasi Sukseskan Poprov, KONI Kalbar Audiensi Ke Kapolda

7 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Warga Mega Timur Desak Transparansi APBDes 2026, Jangan Hanya Bagus di Atas Kertas?

7 Oktober 2026 - 12:21 WIB

Trending di Daerah