ERATIMES – Setiap kali Jumat Kliwon tiba, sebagian warga Batang, Jawa Tengah, tidak langsung beranjak pulang selepas maghrib. Mereka justru bergerak menuju alun-alun kota sambil membawa tumpeng, bunga setaman, dan satu harapan yang sama: keselamatan.
Ada kalender yang kita kenal, ada pula kalender yang hidup dalam denyut budaya Jawa. Dalam sistem penanggalan Jawa, setiap hari memiliki dua nama sekaligus, yaitu nama hari biasa seperti Senin atau Jumat, ditambah nama pasaran: Pon, Wage, Kliwon, Legi, atau Pahing. Ketika Jumat bertemu Kliwon, maka lahirlah “Jumat Kliwon”, hari yang dalam kepercayaan masyarakat Jawa dianggap sarat muatan spiritual, penuh dengan daya gaib yang memerlukan sikap tertentu untuk menghadapinya.
Di Batang, sikap itu berwujud sebuah ritual bernama Kliwonan.
Bukan Sekadar Upacara, Ini Soal Keseimbangan
Kliwonan bukan ritual yang lahir kemarin sore. Ia sudah mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya, terus dilaksanakan secara rutin setiap Jumat Kliwon, di tempat yang sama yaitu alun-alun Batang, dengan tujuan yang tidak pernah berubah: menolak bala, membuang segala yang buruk, memohon keselamatan.
Kata “kliwon” sendiri dalam tradisi Jawa berkaitan dengan konsep lukat, sebuah gagasan tentang pembebasan, penyucian, dan pelepasan dari segala yang dianggap tidak baik. Ritual ini terutama diperuntukkan bagi anak-anak balita yang sering sakit, yang oleh masyarakat setempat diyakini membutuhkan ruwatan, semacam upacara pembersihan spiritual agar terlepas dari gangguan yang menghalangi kesehatannya.
Dalam pandangan masyarakat Jawa yang menjalankan tradisi ini, dunia tidak hanya dihuni oleh yang tampak. Ada kehidupan yang kasat mata, ada pula yang tidak. Keduanya saling memengaruhi. Ketika keseimbangan di antara keduanya terganggu, muncullah penyakit, musibah, dan kemalangan. Ritual Kliwonan adalah cara mereka merawat keseimbangan itu.
Satu Hari Penuh Persiapan
Ritual tidak datang tiba-tiba. Sehari sebelum malam Jumat Kliwon tiba, para warga sudah bergerak. Sesaji dimasak dengan cermat. Perlengkapan upacara disiapkan oleh panitia yang dibentuk khusus dari kalangan masyarakat Batang sendiri.
Yang terlibat bukan hanya keluarga anak yang akan diruwat. Tetua adat, kyai, sanak saudara, dan warga sekitar turut hadir sehingga Kliwonan bukan hanya urusan satu keluarga, melainkan peristiwa komunal yang merekatkan ikatan sosial.
Urutan yang Bermakna
Sore hari menjelang malam Jumat Kliwon, prosesi dimulai. Setiap tahapan memiliki makna yang bukan sekadar simbolis, melainkan dihayati sungguh-sungguh oleh para pesertanya.
Doa pembuka. Seorang pemimpin ritual, biasanya seorang modin atau pemuka agama, memimpin doa memohon perlindungan Allah SWT. Doa dibacakan dalam dua bahasa: Arab mengikuti tradisi Islam, dan Jawa menyesuaikan akar budaya lokal. Keduanya berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.
Guling. Anak yang akan diruwat digulingkan di tanah. Ini bukan tindakan sembarangan. Di baliknya tersimpan makna melepaskan segala penyakit dan mengembalikan si anak ke bumi sebagai simbol pemurnian.
Membuang baju kotor. Pakaian lama yang melekat di tubuh anak dilepas dan dibuang, melambangkan pemutusan dari segala penyakit yang selama ini menempel.
Mandi di sumur Masjid Agung. Anak dimandikan dengan air dari sumur Masjid Agung Batang. Air bukan sekadar air di sini, ia adalah medium penyucian dan pembersihan diri dari kesengsaraan serta penyakit.
Sawuran. Uang receh dilemparkan ke sekitar sebagai ungkapan syukur, sebuah gestur yang sekaligus mengajak orang-orang di sekitar untuk ikut merasakan keberkahan.
Makan bersama. Prosesi ditutup dengan makan bersama. Ini bukan sekadar pelengkap, ini adalah inti dari semangat komunal. Sesaji yang telah didoakan dibagikan kepada semua yang hadir dan dipercaya akan membawa berkah keselamatan serta panjang umur bagi siapa pun yang memakannya.
Apa yang Ada di Atas Tikar Sesaji
Perlengkapan ritual Kliwonan bukan dipilih sembarangan. Masing-masing memiliki makna yang tertanam dalam:
- Kembang Setaman, campuran bunga kanthil, mawar putih, mawar merah, dan melati. Harumnya menjadi medium komunikasi dengan alam gaib.
- Nasi Tumpeng, nasi berbentuk kerucut dengan lauk urap, ikan asin, tempe, tahu, dan telur rebus. Bentuk kerucutnya melambangkan arah permohonan yang selalu menuju ke atas, kepada Yang Maha Kuasa.
- Bubur Merah Putih, dibuat dari beras yang diwarnai merah oleh gula Jawa dan putih alami. Keduanya melambangkan asal-usul manusia, merah sebagai simbol air kehidupan ibu dan putih sebagai simbol air kehidupan ayah.
- Jajan Pasar, aneka penganan tradisional seperti jenang, jadah, wajik, dan buah-buahan. Keragamannya mencerminkan keragaman harapan yang dibawa masyarakat.
- Dupa, yang tidak pernah absen. Asapnya menandai bahwa ritual telah dimulai dan menjadi jembatan antara yang terlihat dan yang tidak.
Di Balik Cerita, Ada Mitos yang Hidup
Mengapa pohon beringin di alun-alun Batang begitu dihormati? Masyarakat setempat meyakini bahwa penunggu pohon beringin itulah yang menjadi salah satu penyebab anak-anak balita mudah sakit, terutama bila sesaji pada malam Jumat Kliwon tidak dipersembahkan. Kemarahan sang penunggu, demikian kepercayaannya, mewujud menjadi penyakit yang menyerang anak-anak kecil.
Keyakinan seperti ini mungkin terdengar asing di telinga sebagian orang. Tapi dalam kerangka budaya Jawa, mitos bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia berfungsi sebagai sistem penjelasan atas hal-hal yang sulit dimengerti, yaitu sebuah cara manusia untuk menempatkan diri dalam alam yang jauh lebih besar dari dirinya.
Islam dan Jawa: Dua Arus, Satu Muara
Salah satu hal yang menarik dari Kliwonan adalah caranya merangkul dua tradisi yang secara historis kerap dianggap berseberangan.
Doa-doa dalam ritual ini dibacakan dalam bahasa Arab, diambil dari Al-Qur’an, sebagai penanda kuat bahwa masyarakat Batang adalah komunitas Muslim yang taat. Namun pada saat yang sama, sesaji, guling, dan mitos beringin tetap hadir tanpa dianggap bertentangan.
Inilah yang disebut sebagian kalangan sebagai Islam Kejawen, perpaduan antara nilai-nilai Islam dengan lapisan budaya Jawa yang sudah lebih tua. Bukan sinkretisme yang tanpa kesadaran, melainkan cara masyarakat menavigasi warisan budaya mereka tanpa harus memilih satu dan membuang yang lain.
Tradisi yang Masih Bernafas
Di tengah laju modernisasi yang kerap membuat tradisi terkikis tanpa banyak yang menyadari, Kliwonan di Batang masih bertahan. Bukan sebagai fosil budaya yang dipajang di museum, melainkan sebagai praktik hidup yang dijalani oleh warga nyata, dengan harapan nyata.
Bagi para orang tua yang membawa anaknya ke alun-alun setiap Jumat Kliwon, ini bukan soal percaya atau tidak percaya pada hal-hal yang tidak terlihat semata. Ini soal melakukan apa yang bisa dilakukan, memanjatkan doa, menjalani ritual yang diwariskan leluhur, dan pulang dengan hati yang sedikit lebih tenang.
Dalam bahasa Jawa ada ungkapan sederhana yang menggambarkan perasaan itu: ayem tentrem, artinya damai dan tenteram. Dan mungkin itulah yang sesungguhnya dicari orang-orang yang datang ke alun-alun Batang setiap kali Jumat Kliwon tiba.
Ritual Kliwonan dilaksanakan setiap malam Jumat Kliwon di Alun-Alun Kota Batang, Jawa Tengah, mulai sore hari hingga selesai. Ritual ini terbuka bagi masyarakat umum yang ingin menyaksikan atau mengikuti prosesinya.
Ditulis berdasarkan kajian etnografi dan folklor tentang upacara tradisional Kliwonan masyarakat Batang, Jawa Tengah.
Penulis: Annyndra Hakim Arya Prabaskara, Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya.









